Awan Mendung Bergelayut Di Akabiluru

Tetangga memandang haru ketika menjenguk Afrizal

Tetangga memandang haru ketika menjenguk Afrizal

Tanah di dekat sebuah rumah kayu, masih teronggok merah. Di dalamnya tertimbun tubuh seorang anak manusia. Itu kubur yang baru saja dibuat. Tertulis di batu nisan nama Afrizal Efendi. Warga jorong Batu Hampa kenagarian Koto Tangah, Batu Hampa Kecamatan Akabiluru Kabupaten Limapuluh Kota. Meninggal akibat penyakit tumor ganas di usus besarnya. Meninggal Jumat (7/7) Tahun 2006.

Laporan Tandri Eka Putra

Dua hari sebelum hari naas itu, ketika dikunjungi Afrizal memang telah cukup menderita. Waktu itu tampak jelas Ujang panggilan kesehariannya kesakitan. Dia meringkuk, merintih matanya terpejam menahan rasa sakit. Mulutnya
bergetar tidak jelas. Sesekali tubuhnya. Ujang (30) tersiksa, menahan sakit tumor yang diderita selama empat bulan.

Memang bukan keinginan dirinya untuk terlahir menderita. Hidup dari keprihatinan terhadap kondisi hidup, Afrizal Efendi dan keluarga terpaksa bertahan terhadap kerasnya tekanan untuk mencari sesuap nasi. Berjuang walau tenaga dan kesempatan terbatas dari kungkungan penjara kemiskinan dan ketidak berdayaan. Nasib batasi keinginan untuk mendapatkan hak seperti sesama mereka.

Setelah dewasa Ujang bekerja serambutan. Terakhir Ujang berprofesi sebagai cingkariak (kondektur) bus Payakumbuh-Bukittinggi. .Orangtuanya telah tiada. Pemuda anak bungsu tersebut hanya tinggal bersama kakaknya, Rosnavila (32). Sayangnya sang kakak tidak mampu membantu banyak. Keterbatasan saudara satu-satunya  tidak mampu memberikannya lebih dari sekedar rasa iba dan perhatian. Rosna bekerja sebagai tukang cuci dengan gaji Rp10.000 perhari. Lima kakak yang lain tinggal di Jakarta tak jelas dimana rimbanya. Afrizal harus bertahan atau terhempas nasib malang.

Empat bulan menderita tumor ganas. Ujang mencoba mengobati ke puskesman. Sekitar bulan Januari 2006 dia mendapatkan rujukan untuk berobat ke RSUD M Adnan Payakumbuh. Di rumah sakit tersebut Ujang mendapatkan perawatan dan pengobatan. Tumor di anusnya diangkat. Usus besarnya terpaksa dipotong.

Untuk pengeluaran Ujang sementara waktu harus dilakukan melalui usus besar yang dikeluarkan dari perutnya. Usai pengobatan kondisi Ujang semakin melemah. Operasi lanjutan harus dilakukan. Pihak rumah sakit menyarankan untuk melakukan operasi di RSUD M. Muktar ke kota Bukittinggi.

Berbekal keinginan keras dan bantuan pemerintah berupa kartu miskin Ujang berangkat ke Bukitinggi. Sendiri!. Sesampai disana dia meminta untuk diperbaiki kondisi kesehatannya. Pihak rumah sakit melakukan prosedur perawatan. Diputuskan operasi menunggu kondisi tubuhnya prima. Ujang harus mendapatkan transfer darah AB sepuluh kantong, untuk mengembalikan alat trasnportasi energi di tubuh lemahnya.

Masyarakat segera bertindak. Bersama-sama mereka usahakan sepuluh kantong darah AB. Sayangnya pencarian yang dipimpin wali nagari Batu Hampa tersebut tidak berhasil mengumpulkan darah sebanyak yang dibutuhkan. Hanya enam orang berhasil didapatkan mempunyai golongan darah AB. Tiga diantaranya tidak bisa donor. Tensi darah mereka rendah setelah bergadang menonton piala dunia. ,”Kami telah berusaha hanya tiga yang layak untuk donor,”ucap Wahyu Santoso, wali nagari Koto Tangah Batu Hampa Kecamatan Akabiluru.

Hal itu juga dibenarkan masyarakat lainnya. Mereka tidak berhasil mendapatkan tambahan darah lagi. Sebagian dari mereka juga menyesalkan tetapi kepada siapa!. Mereka ingin Ujang mendapatkan darah, tapi bagaimana caranya, masyarakat tersebut terus berusaha sesuai kemampuan masing-masing. Bertanya-tanya dan menghubungi siapa saja yang bisa dihubungi. Tetapi usaha meraka tetap tidak membuahkan hasil. Kondisi tubuh Ujang semakin melemah.

Tokoh masyarakat dan anggota DPRD pun diundang mengatasi penyakit Ujang. Mereka mencoba membantu, pengumuman segera dipasang di sebuah radio di Limapuluh Kota. Informasi di sebarkan, berbagai organisasi diminta mendonor jika ada anggotanya yang punya darah AB. Mereka seakan berpacu dengan waktu. Mencoba menyelamatkan jiwa seorang manusia. Berpacu dengan takdir dengan ikhtisar. Berbagai sumbangan terus mengalir, beberapa pendonor telah didapatkan.

Belum sempat bantuan tersebut diselesaikan, dengan sepuluh kantong darah. Tuhan berkehendak lain. Penderitaan Ujang berakhir seiring panggilan pencipta. Ujang menghembuskan nafas terakhir di tengah perjuangannya untuk mengatasi rasa sakit di tubuhnya. Ujang harus pergi dengan duka mereka yang ingin membantu. Lelaki yang kondisi telah lemah tersebut harus meninggalkan kakaknya seorang diri, diiringi tatapan kosong masyarakat.

Kepala dinas kesehatan Kabupaten Limapuluh Kota, Indra Safitri menyebutkan kematian korban bukan hanya karena kekurangan darah AB. “Penyakitnya telah komplikasi. Sebagai tenaga kesehatan usaha penyembuhan terus dilakukan,”ucapnya di ruangannya. Lebih lanjut Indra Safitri menyatakan penyakit yang dialami Afrizal sudah kronis. Untuk penyembuhan diperlukan rumah sakit yang mampu dengan tenaga dan peralatannya.

Puskemas sebagai ujung tombak dinas kesehatan telah memberikan beberapa rujukan untuk referensi tempat penyembuhan bagi penyakit Ujang. Tidak hanya itu, pihak puskesmas juga telah memberikan perban dan berbagai obat-obatan untuk membuatnya bertahan menjelang mendapatkan sepuluh kantong darah AB. Indra Safitri mengakui darah yang dibutuhkan warganya cukup sulit didapatkan.

Tokoh masyarakat Akabiluru, Adib Mastur menyayangkan kematian Ujang. “Kita terlambat menanganinya. Seandainya saja kita mendapatkan darah tersebut, mungkin nyawa alamarhum masih bisa diselamatkan,”ucap lelaki tersebut sendu. Ferizal Ridwan,¬† anggota DPRD Limapuluh Kota yang ikut mengusahakan bantuan dan darah untuk Ujang, mengucapkan rasa terimakasih kepada seluruh masyarakat dan pendonor yang berusaha untuk menyelamatkan kondisi Afrizal.
,”Keluarga Ujang dan masyarakat mengucapkan terimakasih. Kami mewakili keluarga dan masyarakat mengucapkan banyak terima kasih. Mungkin Tuhan berkehendak lain terhadap umatnya,”ucapnya. (abk)

//

April 24, 2009