Auman Cekam Kapur IX

Seekor Harimau Kapur IX Diangkat

Seekor Harimau Kapur IX Diangkat

Tak hanya auman, juga mengerayangi nyawa penduduk. Tercatat….. korban dan kerugian…………?

Laporan : Tandri Eka Putra—Limapuluh Kota

Tak urung, peristiwa ini mengemparkan warga. Warga resah dan takut ke luar rumah. Harimau Sumatera mendatangi perkampungan itu. Sekitar tiga bulan daerah Kapur IX dan Pangkalan Kabupaten Limapuluh Kota akhirnya mencekam. Binatang buas, harimau Sumatera menghantui rasa nyaman penduduk.

Walaupun tidak semua daerah yang didatangi binatang buas sekaligus langka, tapi tingkat kecemasan meningkat daerah paling ujung di Kabupaten yang berbtasan langsung dengan Provinsi Riau tersebut mencekam.

Daerah yang terkenal dengan gambir itu, sejak bulan 20 November 2005 hingga Januari 2006 di datangi Inyiak Balang (panggilan Harimau bahasa Minangkabau-red). Akibat kunjungan yang tak diharapkan itu, beberapa orang terluka dan tiga diantaranya meninggal dunia dengan bagian tubuh tidak utuh lagi. Tidak hanya itu penduduk juga kehilangan binatang ternak lainnya berupa sapi dan kambing.

Suasana mencekam, dihantui bertemunya binatang yang buas itu membuat masyarakat enggan pergi ke ladang. Padahal ladang yang terletak di tengah hutan merupakan sumber penghasilan utama penduduk Kapur IX dan Pangkalan.

Tanggal 20 November 2005. beberapa penduduk jorong Kapuang Ratan Nagari Sialang kecamatan Kapur IX berpapasan dengan binatang buas tersebut. Tidak ada korban jiwa dalam pertemuan itu, tiga orang penduduk luka-luka, satu ekor sapi dan tiga ekor kambing diterkam sehingga tubuhnya compang-camping dicabik-cabik taring dan cakar binatang liar itu.

Esok harinya tanggal 21 November 2005, tiga ekor kambing penduduk Muaro Peti juga hilang dan ditemukan sudah tidak utuh lagi. Tim dari pemerintahan kecamatan Kapur IX dan Anggota Polres Kabupaten Limapuluh Kota, melalui Polsekta Kapur IX segera mengamankan daerah itu. Masyarakat pun diingatkan untuk tidak pergi sendiri-sendiri ke ladang mereka.

Hari-hari berikutnya, masyarakat semakin sering menemukan jejak hewan tersebut diladangnya. Tidak hanya sekedar jejak, bayangan tubuh berkulit belang menandakan hewan tiu ada semakin nyata dimata penduduk.

Akhir bulan November tersebut seorang penduduk di kecamatan sama berkelahi dengan harimau di ladangnya. Korban selama beberapa bagian tubuhnya terkena cakaran dari binatang yang gesit itu. Penduduk itu bernasib baik, sehingga berhasil melarikan diri. Usai dirawat di puskesmas korban diperbolehkan pulang dengan menyisakan ketakutan yang sama.

Kamis, beberapa orang penduduk di Tanjung Jajaran nagari Galugur menemukan binatang itu. Seorang penduduk malamnya terpaksa harus berkelahi mempertahankan hidupnya. Saat itu korban yang sedang mencangkul diladangnya berhasil membuat hewan buas tersebut cedera pada matanya, dengan pukulan cangkulnya.

Harimau itu melarikan diri, meninggalkan tubuh korban yang sudah luka-luka. Esok harinya penduduk daerah Kapur IX merasa harimau tersebut tidak akan kembali lagi ke kampung mereka. Masyarakat petani gambir kembali beraktifitas seperti biasa. Mereka merasa harimau sudah pergi, karena mendengar binatang buas tersebut menerkam masyarakat Provinsi Riau, Rokan Hulu hingga luka-luka.

Di Provinsi tersebut harimau semakin mengganas dan menewaskan dua orang warga Rao. Dugaan masayrakat Kapur IX akhirnya salah. Hampir satu bulan tidak didatangi harimau, Kamis 19 januari 2006 kembali harimau mengunjungi negeri ini. SAtu orang penduduk luka-luka dan beberapa hewan ternak tewas diterkamnya. Korban diketahui bernama Iswanto (16).

kedatangannya Inyiak balang membuat jajaran Polres Limapuluh Kota kembali waspada, melalui petugas Polsek Pangkalan patroli dan jaga malam ditingkatkan. Selang dua hari, Sabtu 21 Januari 2006 Inyiak balang yang dipercaya jarang turun ke kampung itu berhasil membunuh seorang penduduk. Korban bernama Si Ii ditemukan penduduk pagi harinya dengan tangannya sebelah kiri hilang dan tangan sebelah kanan rusak.

Hari-hari dilalui penduduk dengan kecemasan. Penduduk berani keluar jika berombongan. Senin 23 Januari 2006 rombongan dari Muspika plus Limapuluh Kota, Polres Limapuluh Kota, Kesbanglinmas, dan Sekda, Bactar Kahar mengunjungi lokasi untuk melihat kondisi masyarakat di daerah Luhak nan bungsu itu.

Hari itu juga, rombongan dikejutkan dengan bertemunya rombongan yang mengusung seorang pendduuk di tengah perjalanan. Daerah penemuan tubuh itu di sungai Ringgo Joron Mongan Nagari GAlugur kecamatan Kapur IX.

25 Januari 2006, Pemkab Limapuluh Kota bekerjasama dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumbar dan Taman SAfari segera membuat antisipasi dengan pemasangan perangkap. Rombongan memasang dua perangkap dari kayu dengan umpang kambing dan anjing. Lokasi pemasangan perangkap ada di dua titik di sekitar daerah Santuang jorong Mongan kecamatan Galugur di daerah perbukitan tempat biasa hewan itu muncul.

Jumat, 27 Januari setelah dua hari pemasangan perangkap akhirnya harimau yang diduga telah meresahkan masyarakat itu ditembak mati petugas. Petualangan harimau itu berakhir, dengan dua tembakan di dada dan kakinya. Petugas terpaksa menembak di tempat karena binantang tersebut berusaha menerkam petugas yang berpatroli di daerah perbukitan. Tepatnya sekitar 200m dari perkampungan penduduk atau jembatan Mongan.

“Ketika itu kami rombongan patroli dan kebetulan kepergok dengan harimau. karena harimau itu berusaha menerkam romongan maka dilakukan penembakan. Tembakan dengan senjata laras panjang mengenai kaki. Tembakan itu tidak melumpuhkannya malah semakin membuatnya marah dan akhirnya dua tembakan di dadanya membuat binatang itu tak berkutik lagi,”ungkap Kapolresta Limapuluh Kota, AKBP Priyo Widiyanto menceritakan kronologis keberhasilan jajarannya mengamankan warga.

Hal itu juga dibenarkan oleh anggota kepolisian, Aiptu Iswandi yang disebut-sebut penduduk sebagai salah satu dari rombongan yang berhasil menumbangkan bintang yang telah membunuh warga itu. “Kita tetap standby menjaga keamanan,” tuturnya Ka SPK shift C Polresta Limapuluh Kota itu. (abk)

//

April 24, 2009