Kenangan Yang Tertunda (Mengenang Rajied)

Kami bukanlah sahabat yang baik. Saling ejek dan merendahkan satu sama lain bila bertemu merupakan makanan harian. Namun tak ada luka diantara ikatan tanpa perjanjian itu.

Aku paham. Aku harus mencari kader di kampus yang akan ditinggalkan. Cita-cita menjadikan warga kampus ini berarti membuatku harus mencarikan pengganti yang gila almamater juga. Rajied merupakan salah satunya.

“Awak tidak bisa mengajak kawan da,” ucapnya ketika beberapa kali mengikuti ospek. Anak ini kupikir menarik. Selalu hadir walaupun kawan-kawannya sedikit datang. Setia kawannya juga tinggi,kupikir.

Cita-cita akan aktifitas kampus selalu kugambarkan dalam perbincangan dengan Rajied. Ia paham!. “Harus seperti itu da,” katanya tegas ketika menerima ideku. Hari berganti tahun telah berubah. Ternyata umur kami tidak jauh berbeda. Kami akhirnya sekedar memanggil nama atau saling memanggil uda.

Beberapa kali kegiatan kampus ia mengundang. Saya hadir. Ketika ia jadi panitia Jamsika, saya bersedia jadi tukang foto. Kami terasa layaknya saudara, ia minat baju yang saya pakai, saya minat buku yang ia baca. Ia suka telefon selular butut, saya suka vcd game yang ia miliki. Bahkan kami mahasiswa Biologi belajar bersama tentang Visual Basic.

Kadang saya jemput ia ke rumah, kadang ia datang membawa jalan – jalan. Kami bahkan pernah tertidur dalam mobil saat terjebak macet, pasca kapanikan guncangan gempa di pinggir jalan menuju kampus. Lalu saya pikir, saya harus mengurangi kegiatan di kampus. Penelitian harus segera diselesaikan. Berbulan – bulan, saya menghindar.

“Aden panik kini da benk. Adiak-adiak indak namuah diasuah,” terangnya menyebutkan kondisi kampus terbaru ketika ku pulang penelitian dari Pasaman. “Uda, harus sato kini,” katanya. Keterbatasan waktu memaksa ku menghindar dari kesibukan kampus. “Pandai-pandai jo adiak-adiak Jied,” pesanku lewat telfon selular.

“Kalau ang anggap lawan jadilah inyo lawan. Kalau dianggap orang bisa diasuah. Mereka pasti bisa diasuah. Tentu indak saratus persen seperti yang diharapkan, tapi nanti pasti ado yang labiah,’ terangku waktu itu menyemangatinya.

Ia semakin tenggelam dengan kesibukan kegiatan mahasiswa di kampus. Hampir semua kegiatan diikutinya. Naik gunung, main musik, ngumpul di laboratorium, hingga mengerakan massa. Termasuk menjadi pemusik, di festival musik rock kebanggaan kami, Jamsika. Hanya satu ia lupa, statusnya masih mahasiswa, sama seperti kami dulu.

Saya harus ikut bertanggung jawab. Rajied harus segera tamatkan studi. Sedikit memaksa aku berkata untuk Rajied. “Aden lah tamat tapi 6 tahun, kalau hebat atau bisa samo waktunya, aden panggia ang uda. Kalau lebih dari 6 tahun den cimeehan taruih. Kini waang lai aktif di kampus, nanti kalau sempat den caliak taruih apo kegiatan di kampus,” pesan ku ketika wisuda.

Namun apa kenyataan yang kutemui.Rajied semakin mengghilang. Hampir satu tahun ku ingin bertemu. Rici, teman dekatnya juga resah. “Ndak namuah di kecekannyo da. Awak lah bantu bahan-bahan kuliah tapinyo maleh. Antah apo penyebabnyo,” sebut Rici ketika bertemu di luar kampus.

Rajied tetap aktif. Ia beberapa kali, melalui pesan lewat kawan, sms, telfon bahkan datang ke kantor saya menolak ikut aktif kembali ke  kampus, pasca kuliah. “Sudahlah Rajied, maso den alah habis untuk berkegiatan di kampus. Aden datang bilo waang wisuda sajo lah,” jawabku menegaskan agar ia tetap wisuda.

“Benk Rajied maningga,” tertulis di pesan singkat di handphone. Nomor hp nya tidak kukenali.

Aku linglung. Kopi pagi kuhirup tenang. Aku butuh waktu untuk memastikannya. “Sia ko. Maningga dek a?. Jan bagarah ang sia ko,” nomor yang masuk ku telphon .

“Aden kawan ang. Namo den Em, ndak ang simpan nomor den,’ tuturnya. Jelas itu M Najri Janra. Kawan satu lettingg telah menjadi dosen satu tahun lalu.

Berusaha tetap santai, aku minum kopi lagi. Tapi rasanya pahit. Terbayang itu hanya canda lama Rajied untuk membuatku datang ke kampus lagi. Kami telah hampir satu tahun tidak lagi saling memberi informasi.

Sosok mayat. Luka menganga di kepala. Membuatku terpana. Benar! Rajied tewas di lantai tanah. Bekas jahitan di tanganya masih terlihat jelas.

Beberapa teman sepermainnya menangis terisak-isak, ketika ku datang melihat kejadian sebenarnya. Rici tertunduk lesu, menatapku kosong seraya ingin mengatakan sesuatu tapi entah apa.

Terbayang. Ketika Rajied patah tulang tangan, beberapa tahun sebelum Tuhan mengakhiri takdirnya. Aku lihat dia selalu nyengir kesakitan di Rumah Sakit. Kadang nekat, ia keluar bila diajak merokok, senyumnya kembali melebar.

“Rokok urang gaek tu ang agiahan ka aden. Balian den sampoerna pitih habis ko ha,” jawabnya bercanda ketika diberikan rokok GP. Itu bukan hanya satu kali, beberapa kali ia kecelakaan dan patah-patah.

Tapi sekarang, dia tidak sedang bercanda.Tidak kesakitan. Hanya diam. Bajunya planel biru, baju kesukaan kami, handphonenya sony ericson milikku yang dibelinya, sepatu dan celananya sangat ku kenal.

Hanya satu rajied menyimpan cincin dan flasdisk. Mungkin ia telah berubah. Rajied dulu memang tidak begitu mudah jatuh cinta pada wanita, atau setidaknya belum terlalu mencintai wanita ku ingat. Kecuali ia sangat cinta kampus dan almamaternya.

Rajied dibawa ke kamar mayat. Tubuhnya sangatlah dingin. Polisi seakan tidak memperdulikan tubuhnya. Mendorong Masuk ke dalam bunker. Selamat jalan kawan. Mungkin hidup ini terus berlanjut, tanpa kawan!!!!.

(Mengenang Rajied-September2006)



//

May 16, 2009

Tags: ,