Bicara Birokrasi Berbelit-Belit

Terlalu klasik berbicara birokrasi di Indonesia. Jawabannya juga sederhana, berbelit-belit, neyebelin, dan nyakitin. Walau sederhana namun latah malah turun temurun.

Birokrasi ada dimana-mana. Berbelit-belit dimana saja. Terutama yang berbau pemerintahan. Pegawai merasa paling harus dihargai, paling harus diikuti.

contoh saja, di Badan pertanahan Nasional Kota Padang. Walau mengaku telah berubah, lembaga yang disebut juga badan agraria, atau biasa disingkat BPN tersebut masih menyimpan potensi berbelit-belit. Tidak ada penjelasan soal ini.

“Mungkin seminggu lagi,” kata beberapa pegawai berbeda waktu, ketika ditanyakan persoalan mengapa sebuah surat tanah masih belum selesai.
Mungkin saja, semuanya sudah terbiasa. “Ini Indonesia, berbelit-belit itu biasa,” kata seorang teman menanggapi keluh kesah ini.

Tidak jauh berbeda, kantor kelurahan juga memakai paham birokrasi kompleks ini. Untuk satu stempel, yang notabene juga dipegang lurah atau sekretaris tidak bisa diberikan jika surat-menyurat itu bukan dia yang tangani. Padahal pegawai yang mengurus hal tersebut, berhalangan tetap. “Bagaimana kalau dia meninggal, tentu urusan ini tidak akan pernah selesai,” gerutu kawan yang pernah mengurusnya.

Setali tiga uang, kantor imigrasi, kantor pajak, kantor tata kota, dan lain-lainnya. Birokrasi kompleks, dan berbelit-belit musti harus diterapkan.

Dimanakah letak permasalahannya?. Mungkin PEGAWAI kurang memahami tugas, kebanyakan tugas, atau tertekan pekerjaan. Hal ini seharusnya sudah terantisipasi dengan seleksi pegawai negeri, pelatihan, serta pemahaman, ataupun ceramah agama setiap jumat. Mungkin PENGAWASAN yang lemah. Hingga kini sanksi kepegawaian masih kecil, masyarakat juga tidak tahu kemana harus mengadu jika diperulahkan seorang pegawai. Masyarakat cenderung terpaksa rela dipermainkan daripada ditolak.

Banyak kemungkinan. Namun sampai kapan? siapa yang sanggup mengubahnya?. Bagaimana caranya?. Kenapa harus diubah?. Banyak pertanyaan bergelayut, menggoda otak untuk berdenyut.Semoga saja doa dan harapan orang yang mempunyai kewenangan untuk tidak berbelit-belit membuatnya maknanya menerang. Kita Harus Berubah.

May 21, 2009

Tags: