Takut Itu Masih Ada.

Gedung Gamma hancur lebur Aku tidak tahu apa yang ingin kupikirkan melihat reruntuhan gempa yang berserakan di gedung bekas tempat Lembaga Pendidikan Gama. Debu masih saja berterbaran di sekitar daerah yang telah ditutupi seng tersebut.

Perasaan yang sama juga terjadi jika memperhatikan seluruh reruntuhan di Kota Padang ini. Kota tempat ku dilahirkan, dibesarkan dan tempat mencari makan tidak pernah bisa menutupi kelamnya Gempa akhir September lalu.

“Jangan lupakan kamera,” hanya itu yang bisa ku teriakan kepada semua reporter yang masih asyik mengetik di kantor. Sebagian teman-teman telah melarikan diri dari lantai dua. Mereka berebutan menuruni tangga, yang sempit.
Sementara getaran makin keras, aku harus segera turun. “Inilah akhir zaman,” gumam hati yang mulai menciut.

Berlarian di antara kerumunan dan tubuh teman-teman yang terjatuh tidak lah mudah. Alhamdulilah, goncangan itu berhenti setelah beberapa detik mengaduk-ngaduk Sumatera Barat. Di luar, masyarakat berlarian, asap dan api bertebaran, debu dari runtuhan Gamma menutup pandangan.

“Kota Padang banyak yang hancur, bagaimana keluarga. Apakah mereka terkena reruntuhan,” bathin bertanya. Telefon genggam masih ada di saku celana, aku coba…tut….tut…tut…. “Sinyal hilang lagi,”umpatku.

“Bang telefonnya,’ ujar security. “Oke kataku, mengambil HP dan sambil mencoba telefon cdma yang tadi terjatuh.

“Alhamdulilah, kami selamat cuma rumah retak-retak. Devi belum lihat ke dalammya,’ jawab Istri yang berada di rumah. Telfon ke rumah, “Aman bang, tapi ibu tidak di rumah tadi,” jawab adik bungsu Riki. “Tenang saja, di luar rumah jangan masuk dulu,” Lalu kucuba hubungi rumah Mak Tuo, kakak Ibu. “Rumah hancur, tapi kami semua selamat. Ibu tadi memaksa pulang jalan kaki. Motor da Zam hancur tertimpa bangunan,” jawab Kakak Ipar yang mengankat telefon rumah.

“alhamdulilah,”. ucapku dalam hati, sambil terus merekam kejadian yang ada di depan mata.

Darah berserakan di mana-mana. Kepanikan semakin menjadi. Beberapa korban tidak tahu apa yang harus mereka lakukan, kepalanya mengucurkan darah, bahkan ada yang terus memaksa untuk berlari sambil memegang bagian tubuh yang berlumuran darah.

“Tenang-tenang, tutup dulu lukanya,” jawabku sambil memberikan saputangan. Liputan dihentikan sebentar. Korban satu lagi, mulai sempoyongan aku bantu untuk duduk di pinggir jalan. Bajunya kausnya dibuka, diikatkan ke kepalanya. Temannya yang satu lagi, meringis kesakitan. Kakinya luka robek terkena beton yang jatuh.

“Tekan saja kakinya, sambil duduk tinggikan kaki itu,” pesanku pada cewek yang pucat pasi tersebut. Terus berjalan, debu menutup pandangan. Dari reruntuhan gedung Gamma, kulihat beberapa orang anak berlarian ketakutan. Mereka korban yang selamat. Terpaksa lagi liputan dihentikan, sebab mereka tidak mempedulikan patahan besi siap menanti langkahnya. “Hati-hati,” seraya menyambut tubuh kecil mereka. kamera kembali dihidupkan, beberapa orang yang berlarian kupanggil. “Tolong bantu masih banyak didalam,”.

Tidak hanya ini kupikir. Langkah kuputar, Poltabes Padang terlihat sibuk. Kantor Pemko Padang rontoh sebagian. Gedung Matahari Departmen Store yang lama hancur lebur. Beberapa frame gambar diambil, seorang ibu hamil terjepit beton besar. Beberapa orang masih terus berusaha menolong.

Motor terus melaju, beberapa orang terjebak di lantai atas. Sebagian lagi, masih memekik di bawah reruntuhan. Mencekam. Di antara kobaran api, seorang gadis melenguh kesakitan. Kakinya ditahan beton panjang. Hancur, tapi ia tidak bisa lagi menangis. “Tutup saja wajahnya,” sambil berusaha mengangkat beton yang beratnya puluhan ton tersebut. Hari mulai gelap, penolong mulai panik api terus merambat ke arahnya.

Tidak mungkin terus menolong tanpa alat berat, aku harus balik atur liputan. “Segera ke rumah sakit, keliling ke arah pondok, nanti menuju ke pemancar,’ pembagian tugas terus terjadi. Menunggu, gelap gulita……..Minum sebotol teh, dan menunggu beberapa reporter balik untuk berkumpul…..Aku harus pulang, lihat kondisi rumah sebelum ke pemancar….

“Hati-hati..abang harus ke pemancar,”bisikku pada istri yang terpaksa tidur beratapkan langit di dekat rumah. Wajahnya pucat pasi..dan hanya bisa berucap lirih mengiringi langkah tugas ku. “Hati-hati………


(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

October 18, 2009

Tags: , , , ,
  • semoga anda dan semua keluarga di Padang, Pariaman dan sekitarnya diberi semua kekuatan, ketabahan, dan kebaikan. amin 7x ….

    kalau boleh sharing, bukan utk tujuan menakuti atau berharap terjadi lagi gempa … 11 + 18 + 19 Oktober 2009 terjadi gempa di Mentawai ….

    jika berkenan, silahkan ke blog saya terkait prediksi gempa sumatra :
    25 – 31 Oct 2009 7.5-9.5 SR Prediksi Pak Reg Roberts Phd – Gempa Aceh/ Simeulue/ Nias/ Medan/ Pariaman
    31 Oct – 3 Nov 2009 5.0-7.0 SR Prediksi Pak Reg Roberts Phd – Mentawai/ Pariaman/ Padang/ Bengkulu/ Jambi/ Sumatra Selatan

    atau blog saya lainnya
    Richmountain

    salam …