Tata Wajah Media Cetak

Mahasiswa ditempatkan pada bagian pra cetak atau editing yaitu untuk membuat layout rubrik berita MEGAPOLITAN harian dan mingguan, selama melakukan Kerja Praktek yang ditugaskan oleh Pembimbing, mahasiswa selalu diajarkan dan diberi masukan menjadi editing atau layouters yang baik, baik dari kedisiplinan waktu bekerja dan teknik membuat layout yang baik. Mahasiswa juga dituntut untuk bisa dengan cepat dalam membuat layout di karenakan berita yang di berikan oleh wartawan harus langsung di edit dan terbit pada pagi harinya.

Selama Melakukan Kerja Praktek Mahasiswa banyak mendapatkan Ilmu yang yang tidak mahasiswa dapatkan diperkuliahan. Mahasiswa harus benarbenar siap didalam menjalankan tugasnya yaitu sebagai editing layout yang siap untuk memuat berita .Selain itu Mahasiswa mendapatkan pelajaran baru dimana mahasiswa mempelajari hal-hal baru seperti sofware yang dipakai dalam perusahaan menggunakan software adobe page maker, berbeda dengan software editing layout yang di berikan di universitas adalah adobe indesign, dan juga keterampilan keterampilan lain yang menambah kemampuan dalam membuat layout.

Dalam melakukan perancangan tata letak wajah surat kabar Harian Bandung Ekspres, Praktikan yang mengemban tugas sebagai layouter bekerja dengan kelompok tim layouter lainnya yang berbagi tugas dalam penentuan halaman yang akan dikerjakan. Dalam perancangannya, Praktikan menggunakan software Adobe Pagemaker, Adobe Illustrator dan Adobe Photoshop 7.0.

Data ataupun berita dari seorang wartawan akan diolah kembali oleh seorang redaktur. Berita yang telah diolah seorang redaktur akan dikirim kepada seorang layouter untuk diatur dalam perancangan penataan tata letaknya. Penentuan mengenai headline dan subheadline berita ditentukan oleh seorang redaktur.

Adapun mengenai image atau gambar sebagai penguat berita pada surat kabar, akan diolah kembali oleh layouter dengan menggunakan media photoshop untuk mengatur ketajaman warna dan ukuran gambar. Untuk tahap pengaturan berita akan diolah dengan menggunakan software Adobe Pagemaker.

Perancangan tata letak surat kabar Harian tersebut harus selesai sebelum jam 2 dini hari dan kemudian dikirim via internet.


 

Perancangan layout halaman Koran

 

Konsep Perancangan

Pada perancangan surat kabar Harian Umum Bandung Ekspres

pada rubrik MEGAPOLITAN ketentuan mengenai konsep ukuran yang

dikerjakan pada software Adobe Pagemaker adalah sebagai berikut :

Page size : Custom

Dimensions : 340 X 540 mm

Orientation : tall

Margins :

Left : 6,5 mm Right : 6,5 mm

Top : 5 mm Bottom : 5 mm

Target output resolution: 300 dpi

Halaman rubrik megapolitan yang membahas seputar informasi terbaru mengenai pemerintahan sekitar wilayah Bandung di rancang sedemikian rupa agar dapat menarik perhatian pembaca, dan isi dari berita tersebut tajam,

terpercaya dan aktual.

1. Dari segi isi berita harus aktual, terpercaya dan menarik

2. Halaman megapolitan berisi tentang pemerintahan wilayah Kota Bandung, kabupaten Bandung, Bandung barat, Cimahi

3. Komposisi layout harus seimbang, tidak membuat lelah mata pembaca

4. Warna yang di gunakan dalam halaman megapolitan adalah CMYK dan BW

 

Teknis perancangan

Menggunakan sofware adobe page maker dalam membuat layout halaman megapolitan lalu sesudah membuat layout halaman,lalu di print kecil, lalu di cek ulang tulisan isi halaman apabila isinya sudah benar dan sesuai berita tersebut di save format PDF, setelah proses itu selesai berita tersebut langsung di cetak, setelah semua proses selesai tahap akhir di terbitkan.

Adapun isi dari layout MEGAPOLITAN adalah :

1.    Opening adalah judul pembuka dari halaman MEGAPOLITAN, berisi berita utama dengan menggunakan baris 3 sampai dengan 7 kolom. Font atau huruf yang di pakai dalam judul dan isi dalam berita adalah Times New Roman.

2.    Judul utama menjadi penentu bagi pembaca untuk mengenali jenis buku. Oleh karena itu, judul utama pada opening harus mudah di baca.

3.    Judul harus ditulis dengan kontras yang cukup kuat, bahkan bila perlu menggunakan ukuran yang besar, bentuk font yang sesuai, serta susunan tatanan huruf yang meanarik.

4.    Foto pada opening di tempatkan secara seimbang dengan ukuran foto 3 sampai 4 kolom, keterangan foto di tempatkan di bawah foto dengan menggunakan font atau huruf arial.

5.    Menyusun Headlines, Headlines atau judul artikel berfungsi mengantarkan pandangan mata pembaca menuju teks pada artikel yang disajikan. Jika Headline tidak menarik, mungkin teks naskah tersebut tidak akan pernah dibaca orang.memformat Headline adalah dengan memformat huruf pertama pada setiap kata menjadi huruf capital, sedangkan huruf berikutnya adalah huruf bisaa. Susunan seperti itu memudahkan orang untuk membacanya.

6.    Subhead, Subhead dibuat untuk menandai bagian level bahasan (yang berarti bagian yang lebih detail) dari suatu topic yang lebih rendah. Aturan yang berlaku pada Headline juga berlaku pada Subhead. Subhead dan teks di bawahnya merupakan satu kesatuan unit, Oleh karena itu, diberikan jarak cukup jauh (setidaknya dua kali lipat jarak dari paragraf di bawahnya) antara Subhead dengan teks sebelumnya yang berfungsi memisahkan unit sebelumnya.

Bagian layout adalah sebuah bagian yang sangat menentukan walaupun lebih dibilang orang-orang dibalik layar dalam produksi sebuah Koran. Maka bagian layout berperan besar untuk menciptakan kenyamanan dan kenikmatan dalam mermbaca.

Desain layout

 

Layout dalam sebuah koran/surat kabar memiliki fungsi serta tujuan untuk menawarkan/menjual berita, menentukan rangking berita, membimbing para pembaca akan hal-hal yang harus dibaca terlebih dahulu. Layout adalah sebuah surat kabar/koran yang dibuat dengan menyesuaikan gerak mata para pembaca. Dalam penyusunan layout sebuah surat kabar/koran, selain diperlukan adanya pengetahuan tentang jenis dan warna huruf, juga harus memiliki jiwa seni. Sebab dari ukuran huruf untuk headline, panjang berita, besar dan warna foto atau tulisan sangat berpengaruh

terhadap mata pembaca.

Posisi suatu berita, isi dan pola yang digunakan semuanya dibuat untuk melayani pembaca. Sehingga layout itu disesuaikan dengan siapa pembacanya. Berdasarkan desain, layout, dan tipografi dapat menjadi sebuah ekspresi pencerminan kepribadian surat kabar itu sendiri, sehingga pembaca dapat memberikan penilaian akan jenis surat kabar yang dibacanya. Layout koran memang agak berbeda dengan layout majalah atau tabloid, karena koran lebih cenderung untuk menampilkan informasi secara padat. Padat disini dalam pengertian bahwa jumlah berita bisa panjang, namun luasan cetak sangat terbatas. Sebagai konsekuensi, teks cenderung lebih kecil, jarak antar baris juga sempit. Koran menampilkan informasi dalam bentuk kolom, sehingga memudahkan kita untuk mengikuti alur membacanya. Jadi, paling tidak tetap ada unsur yang membantu pembaca dalam menikmati informasinya.

  1. Halaman lain. Contoh seperti ini adalah Pos Kota (Jakarta), atau koran-koran mingguan.
  2. Horizontal layout tata rias mendatar, judul berita dibuat mendatar, dengan berita yang tidak terlalu panjang.
  3. Function layout tata rias yang setiap hari berubah, bergantung kepada perkembangan isi berita hari itu. Bila terjadi hal-hal luar biasa sering dipakai apa yang disebut skyline heads. Jadi ada gejala pemindahan nama tempat nama surat kabar itu sendiri. Layout seperti ini sering juga dipakai oleh koran-koran mingguan terbitan Jakarta.

Selain bentuk kolom-kolom menjadi sangat penting untuk layout Koran ada satu lagi yang tidak kalah pentingnya yaitu white space atau ruang kosong. Penggunaan white space, atau ruang kosong, berguna untuk membantu pembaca fokus ke sajian utama, juga memisahkan elemen, entah karena alas an prioritas atau memang seharusnya terpisah.

Penggunaan ruang kosong yang tepat juga membantu pembaca untuk menikmati halaman dengan lega, sehingga membuat effek si pembaca berita merasa lebih nyaman tidak terkesan terlalu padat. White space ini biasanya juga ditempatkan sebagai pembatas antara berita dengan iklan.

Berbagai cara sengaja dilakukan oleh pembuat desain/layout Koran tujuannya cuma satu, bagaimana membuat pembaca nyaman membaca dan cepat menangkap informasi yang ingin disampaikan dalam berita.

spirasi terpenting dari munculnya beberapa media cetak baru (Jawa Pos, Media Indonesia, Republika, Detik Almarhum, Detektif Romantika, Gatra, dan laian–lain ) beberapa tahun terakhir adalah: sebuah kesadaran bahwa koran yang diterbitkan dengan wajah dan gaya “pas – pasan” harus buru – buru “sadar sendiri” kita, para pengelola harus segera sadar betapa sekarang adalah zaman dimana koran telah berada pada tatanan estetika sangat maju masyarakat pembacanya.

Sudah saatnya koran ditampilkan lebih “berilmu” berdisiplin, lebih cantik dan lebih profesional. Semangat romantisme para pekerja surat kabar harus betul – betul digeser menjadi semangat profesi. Dan kehadiran beberapa media cetak baru itu seperti hendak mecibir betapa “iba” melihat koran–koran yang dicetak karena “hanya” halaman–halaman sudah penuh dengan kum-pulan foto dan berita.

Bahwa koran selalu dipenuhi oleh orang–orang ber-bakat, tentu adalah benar. Penerbit surat kabar sebagai sebuah institusi adalah tempat para pekerja yang penuh semangat, juga tidak terlalu salah. Tapi celakanya, se-mangat perjuangan dan modal bakatlah yang sering muncul dominan. Sedangkan semangat yang lain yang sangat menonjol adalah semangat artistik, hanya diterje-mahkan secara “serampangan dan sambil lalu”.

Maka wajar ketika pencapaian di bidang estetika da-lam masyarakat telah begitu kompetitif, justru dunia koran kita dalam bentuk penampilannya yang pontang – pan-ting. Tak sedikit koran – koran lama dan tua , lebih – le-bih yang kecil harus tersingkir dan mati. Kalaupun ada beberapa yang hidup karena dihidup – hidupkan, itu tidak lebih dari tindakan meromantisasi masa silam saja.

Pada saat iklim kompetisi estetika begitu ketat seperti sekarang, gairah menampilkan (wajah) koran harus difor-mat sebagai sebuah kesenian yang sungguh. Dan dalam industri perkoranan sekarang, kesenian haruslah diperla-kukan sebagai sebuah disiplin ilmu betulan.

Bukan kelangenan! Metode – metode dasar seni harus “terukur” dengan baik serta “sekolahan”. Dalam persa-ingan yang wajar, bakat dan semangat pun sekarang rasanya sudah tak lagi cukup. Karena kehadiran media cetak generasi baru itu agaknya begitu kaya dengan “gaya – gaya” sekolahan disamping bakat dan semangat.

Sampai seberapa jauh sebenarnya gaya dan pe-nampilan kita dibutuhkan? Sejauh kebutuhan – ke-butuhan Koran yang lain. Tawaran visual berbagai televisi akhir–akhir ini juga lagi–lagi harus menyadarkan kita, bahwa ada yang berubah pada masyarakat kita. Gam-bar tiba – tibamenjadi sesuatu yang sangat penting. Me-ngemas, menata dan mengolah gambar juga menjadi keharusan. Sekarang, seorang penyanyi misalnya, tak cukup hanya bersuara bagus semata. Ia harus sensual, seksi dan memenuhi keharusan–keharusan visual yang lain. Sedikit banyak dari keterpengaruhan media pandang dengar terhadap masyarakat pembaca koran adalah adanya kecenderungan untuk cepat mereaksi. Cepat menolak atau sebaliknya ; mengandrungi. Gene-rasi koran muda seperti disebut di atas rasanya lebih siap dalam memasuki wilayah kompetisi kreativitas vi-sual jenis ini. Minimal, sedikit banyak mereka telah me-lewati persoalan tersulit tentang estetika.

The Straits Time, Koran Singapore yang juga ber-saing dengan koran–koran Indonesia, dalam waktu de-kat akan mengubah gaya penampilannya yang lama. Da-lam release yang dimuat Asian News Paper Focus bebe-rapa waktu lalu disebut hal yang tak kalah penting dari perwajahan TST adalah karena ia ingin menjangkau (to reach) generasi MTV Singapore, segmen yang semen-tara ini menjadi rebutan stasiun televisi. Maka itu kesan lama yang cenderung berat dan kaku selama ini harus buru– buru diganti dengan kesan ringan, cerah, berwarna dan enak dibaca.

Lantas bagaimana dengan beberapa penerbitan kita yang karena keterpaksaan tertentu tak mampu cetak penuh warna? Orang sering lupa bahwa hitam adalah bagian yang amat dominan dari penbendaharaan warna. Kita misalnya lebih biasa menyebut televisi hitam putih (grey scale) sebagai : bukan TV berwarna. Bahwa Mer-cusuar atau Suara Maluku tak mampu tampil warna – warni adalah iya. Tapi tampil dengan warna grey scale juga mestinya tak perlu terlalu dijadikan persoalan. Se-bab hitam putih pun sebenarnya telah banyak memberi alternatif pilihan.

Yang penting, sejauh mana kita bisa mengoptimalkan seratus gradasi dari hitam (black) 100% hingga 1%. Kompas Detik Almarhum misalnya, lebih memilih variasi grey scale, ketimbang Magenta, Cyan, dan Yellow. Tapi orang jarang berfikir bahwa Kompas tak mampu tampil full color. Maka itu, dalam berhadapan dengan keterbatasan seperti ini, anggaplah penampilan Grey Scale sebagai sebuah pilihan. Bukan keterpaksaan! Minimal sampai saatnya kemampuan untuk cetak penuh warna itu tiba.

Tentang Kami

Koran praktis, selektif memilih isi, dan mengikuti tren pembaca terkini merupakan pendekatan pengelolaan isi Harian Jogja.  Suratkabar umum lokal ini ditujukan untuk melayani komunitas yang ada di Provinsi Jogja dengan populasi  3,4 juta jiwa.

Tampilan praktis wajah Harian Jogja mendorong pembaca betah menikmati isi hingga tuntas. Penggunaan ukuran huruf yang nyaman bagi pembaca, jumlah informasi yang selektif, pengelompokan rubrikasi berita yang jelas, serta tata warna khas tradisi Jogja (cokelat, hijau, merah, kuning) di tiap halaman, menjadikan produk ini dekat sekali dengan selera khas konsumen Jogja.

Sejak terbit awal, pembaca, pengasong dan pengecer koran, sering menyingkat Harian Jogja menjadi Harjo, sebuah nama akrab dengan tradisi kehidupan keseharian Jogja. Secara tidak langsung, kedekatan itu mempercepat koran itu menjadi bagian Jogja.

Kekentalannya sebagai koran Jogja tercermin pula dari pemakaian istilah lokal dalam penamaan rubrik maupun penulisan berita.  Sebut saja subrubrik Angkringan, Gedhadhe Dab (bahasa walikan Jogja), Jagongan, Unek-unek, Jagongan, Suluk — begitu popular dipakai orang Jogja.

Format Harian Jogja dikemas menjadi dua sisipan. Seksi satu berisi berita-berita yang terjadi di tingkat regional, nasional, hingga internasional. Sedangkan seksi dua, dengan sebutan rubrik JOGJAPolitan, berisi kumpulan berita-berita daerah  di Provinsi Jogja, mulai dari Jogja, Sleman, Kulon Progo, Bantul, Gunung Kidul, serta bagian Jawa Tengah seperti Magelang, Purworejo, Solo dan Banyumas.

Harian Jogja diterbitkan oleh grup Bisnis Indonesia, yang lebih dulu menerbitkan koran umum lokal Solo, Harian Solopos.

NO HARI/TANGGAL KEGIATAN

1. Senin, 17-10-2011 memperkenalkan layout rubrik nasional

2. Rabu, 19-10-2011 Penerapan layout rubrik nasional

3. Kamis, 20-10-2011 Penerapan layout rubrik nasional

4. Jum at, 21-10-2011 Penerapan layout rubrik nasional

5. Senin, 24-10-2011 Perkenalan megapolitan warna

6. Rabu, 26-10-2011 Membuat iklan kecil pada halaman

7. Kamis, 27-10-2011 Membuat iklan kecil pada halaman

8. Jum at, 28-10-2011 Membuat iklan kecil pada halaman

9. Senin, 31-10-2011 Membuat iklan kecil pada halaman

10. Rabu, 02-11-2011 Penerapan megapolitan warna

11. Kamis, 03-11-2011 Penerapan megapolitan warna

12. Jum at, 04-11-2011 Penerapan megapolitan warna

13. Senin, 07-11-2011 Penerapan megapolitan BW

14. Rabu, 09-11-2011 Penerapan megapolitan BW

15. Kamis, 10-11-2011 Penerapan megapolitan BW

16. senin, 28-11-2011 Membuat iklan

17. Selasa, 29-11-2011 Perkenalan sportivo

18. Rabu, 30-11-2011 Membuat iklan

19. Kamis,01-12-2011 Perkenalan sportivo

20. Jum at,02-122011 Perkenalan sportivo

21. Senin, 05-12-2011 Perkenalan sportivo

22. Rabu, 07-12-2011 Membuat iklan

23. Kamis, 08-12-2011 Membuat iklan dan grafis lapangan

24. Jum at, 09-12-2011 Perkenalan maung bandung

25. Senin, 12-12-2011 Perkenalan maung bandung

October 16, 2012

Tags: ,