Ospek Kami Lebih Parah Lagi

Harus Ada Formula Baik MOS dan Ospek
Pro Kontra Masa Orientasi

Tiba – tiba kami dikumpulkan dalam sebuah aula besar. Seorang pria berambut panjang teriak-teriak. Nadanya tegas, agar semua mahasiswa mengikuti aturan yang dibuat oleh panitia Orientasi pengenalan Kampus (Ospek).

Hari ke hari terasa kelam, kami dikumpulkan pagi – pagi sekali. Berjalan jongkok, lewat selokan, kadang disuruh push up, squat jump, merayap. Semuanya diiringi dengan teriakan orang – orang yang terkesan kejam.

Nyaris satu tahun, kuliah dipadu dengan berbagai iven menegaskan tentang orientasi kampus. Hingga suatu saat kami berkumpul, kemping bersama. Tekanan demi tekanan dilakukan juga hingga pada akhirnya mengelilingi api unggun semuanya dianggap hilang.

Ada kenangan disana, ada keterpaksaan membuat kami harus disiplin selamanya, ada kepercayaan diri yang ditimbulkan dan ada rasa cepat tanggap. Kami juga lebih akrab, lebih mudah bergaul dengan semua yang ada di lingkungan. Mungkin ini efek baiknya.

Padahal tidak, masih ada yang ketakutan bertemu seniornya. Masih ada yang menyisakan luka pada tubuhnya, walaupun itu lecet akibat jalan tanpa alas kaki.

Masa Orientasi Sekolah (MOS) dan Orientasi Pengenalan Kampus (Ospek) hanya ganti nama. Apapun namanya, namun umumnya isinya hanya berubah sedikit.

Dulu namanya plonco, habis itu Ospek, dan lain – lain. Biasanya, siswa baru atau mahasiswa baru datang diwajibkan berbagai macam tugas dan berbagai macam atribut aneh. Mencarinya saja susah, memakainya apalagi. Paling parah menjalani hari – hari dengan atribut dan tugas – tugas tersebut.

Tahun demi tahun, akhirnya orang yang pernah di plonco lalu menjadi panitia. Bahkan ada yang measa ini balas dendam. “Kami lebih parah lagi daripada ini,” teriak mereka.

Kami mencoba menggali dari enam tahun masa perkuliahan, memberikan nilai positif tanpa ada efek negatif. Dibentuklah namanya komisi disiplin (komdis) dan Tim pengawas yang mengawasi pelaksanaan. Waktu ke waktu mungkin sekarang sudah sangat lebih baik.

Bagi sebagian orang, Ospek, plonco atau apapun namanya itu tidak perlu. Namun ada juga sebagian masyarakat tetap menginginkan ada, agar efek baik tadi ada namun meniadakan hal yang aneh, menyusahkan dan membahayakan serta tidak mendidik.

Bukankah persatuan bisa diciptakan dengan tiga hal, rasa yang satu, musuh bersama, dan senasib sepenanggungan.Ketika mengalami persoalan yang begitu berat dalam perkuliahan dan pasca┬ákuliah, saya selalu berujar ” Ospek kami lebih parah dari ini,”

Memang waktu ke waktu pendidikan mental tidak mesti dengan kekerasan, keakraban tidak harus dengan tekanan. Walau kadang disiplin kadang memang harus dipaksa, daya juang kadang harus sulit.

Silahkan buat formala yang bagus, bagi anda yang ingin melaksanakan Ospek atau MOS. Jangan lupa ikuti aturan yang ada.

//

July 28, 2015

Tags: ,