Ramadhan Kali Ini Tanpa Amak Gaung

Kejadian ini terus berulang dan akan berulang lagi. Pasti. Kami, pasti akan memapah keranda mendaki perbukitan di seberang palinggam, tempat kuburan keluarga Ranah, Padang. Ini kali kedua harus mendaki perbukitan dengan bebatuan itu, dengan membawa keranda. Amak Gaung, kami biasa memanggil nenek kami, menuju peraduan terakhirnya. Di tempat ini seluruh keluarga kami akhirnya berkumpul.

“Kita sudah semakin banyak pandam ini makin tidak mencukupi,” kata seorang mamak, membuka percakapan di sela-sela penimbunan tanah kuburan. Memang seperti itulah, seluas mata memandang di antara semak ilalang dan pepohonan kamboja puluhan bahkan ratusan batu nisan telah terpajang. Tak jauh dari tempat itu, sepupu kami juga telah beristirahat, setelah kecelakaan naas baginya beberapa tahun lalu.

Hari ini Amak Gaung juga harus beristirahat disini. Nenek dengan umur 82 tahun yang meninggalkan tujuh orang anak dan puluhan cucu serta cicit menyusul Ayah, kakek kami. Kami selalu memanggil beliau Amak dan Ayah, entah kenapa sebutan anak-anaknya juga diteruskan cucu dan cicitnya. Gaung, menunjukan domisili di daerah Gaung Jati, Padang karena kami memiliki sebutan ayah dan amak untuk beberapa orang tua lainnya.

Amak dipanggil dinihari tadi, 7 Juli 2012. Beliau telah menyerah akan komplikasi berbagai macam penyakit di tubuh tuanya. Ia memang telah lama menyatakan tidak sanggup lagi walaupun kami terus memintanya bersemangat mengatasi penyakitnya. Bagi ku beliau bukan hanya sekedar nenek, belasan tahun aku tinggal di rumahnya. Makan dari tangannya, merasakan pijatan saat kala badan tidak nyaman tak akan ada lagi. Ia selalu memberikan uang saku, khasnya selalalu dilakukan diam-diam walaupun semua cucu dan anaknya akan dapat hal yang sama.

Ramadhan sebentar lagi. Setiap Ramadhan Amak selalu senang, bangun subuh sekali, masak makanan hangat dipadu air hangat kuku lalu bergegas ke Musholla terdekat. Pulangnya, Amak mengaji dengan air mata berlinang. Tidak akan berhenti orang tua yang kameh membereskan semua pekerjaan tanpa harus minta bantuan. Tidak pernah meminta, kecuali untuk orang lain. Selalu datang ketika ada yang butuh bantuan, selalu berperan walau sudah diminta duduk diam terutama saat pesta baralek.

Malam usai Tarawehan Amak, akan terpana dan terbawa melihat acara TV hitam putih kami, kadang tertawa, kadang tanpa ekspresi kadang hanya tersenyum. Tapi tidak pernah ada rasa takut ataupun sedih, walau tontonannya menghanyutkan ke arah itu. Amak, hidup dengan berbagai beban yang tidak terlihat di wajahnya. Amak selalu menyimpan dalam-dalam, termasuk kesedihannya ditinggal Ayah. Ia selalu datang setiap teringat pasangan hidupnya itu, buktinya kubur Ayah selalu bersih dari semak belukar. Kata penjaga kuburan, amak itu selalu datang membersihkan dan berdoa di sana.

Beberapa tahun terakhir, Amak tak pernah berhenti berjuang. Walau kadang lelah, tubuh tuanya yang kurus terhempas dengan nafas sesak. “Amak ndak sanggup lagi,” katanya di rumah sakit beberapa waktu lalu. Ia juga menolak juga diberi isi sakunya. “Ndak usah lagi,” katanya. Selalu bercerita panjang lebar ketika dikunjungi sambil tertawa sekali-kali. Akhir-akhir ini ia sering kena razia, uang sakunya sering disita, karena sering membeli makanan yang membuat nafasnya akan sesak lagi. “Muncuang (Mulut) ini sering cumi (lapar), tapi sudah itu sakit lagi. Nafas sesak, semuanya tidak bisa enak lagi, harus direbus tanpa garam, tanpa bumbu,” sebutnya sambil membereskan selang oksigennya seakan tak ingin mengakhiri ceritanya.

Ramadhan tahun ini, tentu Amak tidak akan bisa melakukan hal yang sama lagi. Sang Pencipta memintanya kembali, meninggalkan kami dengan semua cerita dan perjuangan yang pernah diberikan. Amak telah menuntaskan takdirnya, menjadi hamba, meninggalkan keteladanan, menitipkan pesan tanpa nasehat hiduplah sebagai orang yang bermanfaat. (*)

* Mengenang jasa seorang nenek

 

Catatan di FB : 7 July 2012 at 23:53

https://www.facebook.com/notes/tandri-eka-putra/ramadhan-kali-ini-tanpa-amak-gaung/10150916715521428

December 14, 2015