Tipu Daya Dunia Maya

Beberapa tahun belakangan, sebagian besar orang disibukan dengan telefon selular. Generasi penekur, ada sebagian yang nyebut begitu. Apa saja nyaris ada, ya hiburan, permainan, ilmu pengetahuan dan ratusan ragam informasi.

Sambil santai minum kopi minggu saya ingin sampaikan beberapa hal tentang tipu daya di dunia maya. Kita bisa diskusikan, walaupun mungkin tidak sepakat sepenuhnya. Anggap saja, informasi satu sisi.

Rating
Ada – ada saja peringkat atau rating di dunia maya, mulai dari peringkat games online, rating website, jumlah follower.

Bahkan demi mencapai peringkat ini, berbagai trik dan tips baik benar dan tidak benar bisa dibuat. Ya, namanya sistem mesin, masih bisa diakali.

Bahkan target yang kita ingin capai juga tidak jelas artinya. Misal saja, jika website anda nomor satu lalu dapat apa?. Salah satu website rangking yang sering dipakai adalah alexa. Bahkan sebagian website rating, termasuk alexa menyediakan paket bayaran kalau ingin rating website diperbaiki. Uniknya ada yang menyusun tingkat perdaerah, walaupun fasilitas tersebut tidak tersedia di website alexa.com. Mereka ingin tinggi, lalu pilih peringkat saingan yang berada dibawah rating website kita. Untuk diketahui alexa.com menyediakan sistem peringkat berdasarkan negara, sedangkan peringkat website sejenis disusun secara global, sedunia. Tidak ada per provinsi atau per kota dan kabupaten.

Rating ini dishare dan disebarkan dengan harapan, agar website kita mendapatkan kepercayaan orang banyak. Padahal yang websitenya dibawah, merasa tidak pernah ikut pertandingan ini, atau pertandingannya berbeda pada website rating yang lain. Mungkin saja, script mesin, indeks website ratingnya beda. Jika ingin cahaya kita hidup, jangan padamkan cahaya yang lain. Kalau ingin informasikan kita baik, jangan rendahkan yang lain.

Jumlah Follower
Lain lagi, cerita di media sosial. Jumlah follower juga tidak jelas benar peruntukannya. Pemahaman sebagian pengguna medsos, kalau follower banyak berarti status di media sosial kita bisa naik. Bahkan ada yang ingin mengeluarkan dana secara nyata untuk beli akun atau beli follower. Walaupun tidak serta merta dengan follower banyak kita mendapatkan status sosial yang tinggi, atau pendapatan langsung.

Saya dan mungkin kita semua diminta menjadi follower sebuah akun, padahal kita tidak kenal dan kita rasa tidak berguna juga diikuti. Kondisinya kadang berlebihan, demi banyak follower jika kecelakaan, banyak orang lebih mengutamakan mendokumentasikan kejadian daripada menolong korban. Mana tahu kondisi korban bisa lebih selamat, jika pertolongan lebih cepat daripada dokumentasi.

Akun Palsu
Saya agak ngeri membayangkan hal ini. Sepertinya negeri ini bertempur terus. Padahal sisa “perang” Pilpres 2014 dan Pilgub DKI 2017 masih ada, tahun 2019 kesannya ada pertempuran baru yang lebih dasyat. Bahkan layaknya pasukan tempur. Mereka memberikan label kelompoknya “Army” dan “Laskar”. Bagaikan peternakan dengan induk yang subur di lahan gembur, ratusan bahkan ribuan akun hadir. Walau akun palsu tidak selalu menyebarkan berita palsu, kalau iya klop lah. Saya tidak mengerti mengapa hal ini tidak teratasi, kalaulah pemerintah mau, saya rasa bisa memerintahkan agar penyedia platform seperti facebook, twitter atau instagram memudahkan verifikasi dan mengetatkan penggunaan akun media sosial, seperti kartu selular.

Bukankah tumblr dan tiktok bisa kena syarat juga walau hanya memfilter konten negatif. Tambahlah syaratnya permudah dan perketat verifikasi.

Berita Palsu
Ini sebelas duabelas dengan akun palsu. Walau metoda pelaporan setiap platform telah ada, berita palsu atau jamak disebut hoax bertransformasi menjadi hoax sebagian, hoax yang bisa ditolerir dan hoax lainnya. Contoh saja, foto artis Arnold Schwarzenegger yang tidur di depan patung sebuah kampus. Walau kejadiannya dipalsukan tentang nasib sang artis dan mantan Gubernur California yang tidak dipedulikan orang. Kejadian palsu itu kadang bisa diterima, karena ada pesan baik di dalamnya.

Pemerintah telah terlibat disini, walau masih ada yang memandang berat sebelah dalam penerapannya. Faktanya UU ITE, telah menimbulan beberapa korban.

Games
Ini jelas tipu daya yang terasa menyenangkan. Saking tinggi peminatnya, tipu daya sebenarnya menyelinap dan menyaru disana. Kasus bocornya data facebook yang tidak lagi hangat, membuktikan hal itu. Permainan pihak ketiga, ternyata untuk pencurian data akun kita dan teman- teman.

Nah, jelang kopi di gelar berakhir kita simpulkan saja. Layaknya televisi yang dianggap bisa merusak beberapa tahun lalu, dunia maya juga bisa. Namun bisa kebalikannya, dunia maya membawa banyak kebaikan, memudahkan dan membantu.

Kini tinggal kita sendiri memverifikasi informasi, permainan ataupun status yang ingin dicapai. Semoga kita tidak terlena dengan tipu daya dan tetap bahagia. (*)

July 19, 2018

Tags: , , ,