Antara Singgalang Tandikek

Kopi pagi ini begitu nikmat.secangkir kehangatan, khas negeri ini, embun bagaikan asap yang keluar dari mulut. Gorengan panas harus segera dilahap. Matahari membelah halimun pagi,kaki gunung Singgalang.

Kami delapan orang,datang sore kemarin. Istirahat semalam di pondok yang juga warung pagi, di kaki gunung. Barang telah di packing rapi,dalam ransel setinggi badan. Sarapan pagi usai. Sejenak bisa menikmati aroma oksigen murni,sebelum stretching melewati hari pertama,pesanggarahan menuju puncak Gunung Singgalang.

“Lima menit lagi,kita senam dulu,” teriak Feri,ketua tim pendakian kami.Berkemas-kemas,harus!.Titah ketua,tidak pernah diulang.Ambil tempat di tanah lapang,berbaris dan berbanjar,terserah yang penting rapi.

Senam pagi telah selesai,kami diberi waktu untuk membersihkan tempat tinggal sementara.Chek tempat,lihat kiri,lihat kanan,simpan sampah.Masukan dalam kantong.Tumpuk di tempat yang disediakan.

“Semoga sukses dan hati-hati,” kata da kadai,begitu kami memanggilnya.pedagang minuman dan gorengan di kaki Gunung Singgalang.

Pendakian Singgalang,tidak begitu menguras energi, langkah awal baik dibandingkan total pendakian kami.Pemandangan yang indah,hawa yang sejuk,serta jalur pendakian basah

Dengan panduan tiang listrik tower puncak Gunung Singgalang, kami tiba di puncak pada siang menjelang sore. Tenda terpasang, sebagian bertamasya di puncak. Menikmati indahnya telaga dewi. Sebagian menyiapkan kayu bakar dan mengamankan tenda yang telah terpasang.

Mengobrol sejenak, kami akhirnya terlelap sesuai jadwal piket malam itu. Setengah malam kami bagi dua. Besok kerja lebih berat. Jalur Salo

Hari ini pagi, kami merapikan sleeping bag dan segala perlengkapan. Berdoa, olahraga dan makan pagi. Kami mengelilingi telaga dewi, masuk ke jalur antar Singgalang dan Tandikek. Inilah jalur dengan hutan lumut yang tebalnya bisa setinggi rumah bertingkat dua. Jurang kiri kanan, kalau beruntung kita bisa lihat telaga kumbang yang jauh tersembunyi di jurang di antara timbunan lumut.

Jalur salo,tidaklah sederhana.Selangkangan selalu jadi korban.Berjalan diantara dahan kayu yang diselimuti lumut,mudah menjatuhan tubuh.Kaki terpeleset,terjepit diantara kayu.kalau selamat hanya pantat terjembrab,kalau tidak tengah-tengahnya merapat ke kayu dengan keras.”Wadaow..,” kata salah satu anggota tim.Kami jadikan itu candaan,” dua kali baru.siapa rekor tertinggi,” kata kami.

Salo,antara Singgalang dan tandikek tidak bisa berlama-lama.Seluruh penghuni gunung biasanya berkumpul minum air. Aliran air antara dua gunung, selalu jadi tempat kumpul. Binatang buas juga suka bergabung berburu disana.Kami tidak ingin jadi salah sasaran.Segera setelah istirahat sejenang kami bergegas,pinggang Tandikek,sasaran untuk istirahat,sebelum beransur turun ke kaki gunung Tandikek. Mengapa? Karena puncak dipenuhi asap belerang dan minim air. Tidak akan bisa tidur nyaman disana.

Antara Singgalang dan Tandikek,jalur yang tidak mudah namun patut dicoba.Menikmat ayat-ayat Tuhan,terbentang rapi untuk dinikmati dan diwarisi.Semoga anak cucu kami,bisa menyukurinya nanti.Abadi. (*)

July 22, 2020

Tags: ,