Marapi Berkabut Lagi (Tulisan yang tak pernah Sudah)

Entah kenapa harus kembali ke gunung ini. Mengapa kesini pun tidak ada alasan. Hanya ada insting aku harus kembali ketempat kita pernah bertemu. Tempat dimana kita pernah bercerita, tempat awal yang akhirnya membawa kembali kesini

Perjalanan ini tidaklah ringan. Perlandangan yang menanjak, membuat kaki  melatih beban. Hutan bambu, membuat kewaspadan terhadap ancaman sibiran daun yang tajam.

Paska itu, pohon yang tidak menyambut ramah. Menjulang dan diam.

“Aku menunggu jawaban,” katamu lirih”

“Belum waktunya, teruslah berjalan,” kataku pelan. Dialog itu melintas di pikiran.

Senin pagi ini sepi. Tak ada lalu lalang keramaian sabtu malam. Istirahat sebentar, ku pandang jalanan. aku rindu, langkah ku kembali berpacu.

“Aku mau ke Marapi, temani,” katamu ketika kita bertemu.

“Ah yang lain sudah sering kali,” jawabku.

“Aku pergi sendiri,” kamu merajuk

“Ya sudah jalan Sabtu pagi, balik siang,” kamu senyum senang.

Ransel ini terasa berat, ini sudah setengah perjalanan. Haus kali rasanya.  Setelah sandaran, ku hisap rokok sebatang. Air putih berganti kopi. Marapi ngangenin.

“Wajahmu selalu terbayang, dalam setiap angan. Yang tak pernah bisa . walau sekejap”.  Malah senandung itu keluar bersama hembusan asap. Sejuk semilir angin.. Tidak boleh bertahan disini.

Rimbunan pohon mulai jarang. Tanda cadas Marapi sudah dekat. Terdengar  suara. Masih ada yang nge camp.

“Sendiri pak,” kata pria di dekat sebuah tenda

“Ya…,” kataku sambil lepas ransel

Mereka dari kota Pekanbaru, rencana mau balik sore ini. Ada lima orang, sepertinya sudah beberapa hari kemping disini. Aku menunggu saja, sepertinya bekas areal tenda mereka bagus.

Kopi ku keluarkan lagi. Bentang matras.  ganti pakaian. Pergi ke mata air, isi persediaan. Bersih – bersih dan wudhu.  Usai sholat, kupanjatkan doa. Selamat dunia dan akhirat. Doa untukmu… mataku basah

“Aku sakit, mau ,” katamu di telfon waktu itu

“Ah, masa serapuh itu,” candaku

“Apa jawabannya. aku menunggu,” tanyamu

“Belum waktunya,” jawabku

Bagaimana menjawab pertanyaan itu. Bagiku kamu wanita itu, harapan selalu bersamamu. Namun tidak sepadan

“Ini mama mau ngomong,” katamu di seberang telfon.

“Jangan, tak berani aku. Udah ya,” jawabku

Mana bisa bicara sama orang tua itu. Ia lebih keras dari gadis ini.

“Ini mama. Bagaimana,” tanya suara itu

“Ya ma, belum siap saja,” jawabku.

“Nanti menyesal,” katanya agak tertahan

“Ya ma,” jawabku

Tidak ada lagi suara, ada isak tangis yang ditahan.

“Ya ma, ditutup dulu,” nanti ditelfon ulang kataku.

“Ya, ditunggu,” bisik suara itu

Ia pernah datang ke . Ajak jalan – jalan. Waktu pulang, kami duduk di teras. Ia bicara. “Mama sudah banyak dapat cerita tentang kamu. Sekarang sudah bertemu. Tolong jaga anak mama,” katanya waktu itu

———-

“Duluan pak,” kata rombongan itu menuju pulang

“Ya, hati – hati turun,” kataku mulai mempersiapkan tenda. Gelap akan datang cepat, aku akan beristirahat setelah makan dan sholat isya malam ini

———

“Tadi ada telefon dari Pekanbaru. Minta ditelfon ulang, penting ada yang meninggal,” kata kawan di sekretariat ketika baru datang pulang kuliah

Aku bergegas ke warung telfon di pinggir jalan.

“Ia telah dulu, tak  bisa lagi menunggu,,” kata sang mama mengangkat telfon.

Gadis tegar itu menyimpan sakit yang terus memakan tubuhnya. “Ya ma, saya menyesal,” jawabku sebelum salam menutup telfon.

———

Pagi ini segar sekali, usai sholat subuh Marapi mengelilingi. Dingin, tapi saya harus packing.

Aku akan singgah ke puncak Merpati,  tempat dimana senyummu mengembang pertama kali.

“Saya ingin punya suami, kamu,” katamu waktu itu

“Ha gila,” jawabku tertawa. Di ajak ke Marapi saja begini, apalagi ke Gunung Kerinci.

“Jawabannya..?,” tanyamu mulai serius

“Nanti,” kataku

“Aku menunggu jawabanmu,” katamu.P

Pertanyaan itu terus tergiang, terulang. Kabut Marapi tidak juga hilang. Saya harus pulang. Seandainya waktu bisa menunggu. (***)

Related posts

August 9, 2023

Tags: ,