Pendidikan di Masa Depan

Sekitar tahun 2007, saya berkesempatan mengikuti program Jurnalis Exchange yang dihelat konsulat Amerika. Saya mengunjungi beberapa tiga kota di Amerika Serikat. Kebetulan program yang saya ikuti adalah program yang terkait dengan pendidikan. 

Tiga kota itu adalah, New York, Syracuse dan Washinton DC. Dalam program tersebut, kami di ajak melihat langsung sekolah, diskusi dengan pejabat berwenang tentang pendidikan, lembaga pendukung pendidikan, wawancara dengan siswa dan melihat aktivitas dan fasilitas pendidikan. Ada beberapa hal yang menarik perhatian, yang saya coba paparkan semoga bisa diambil kebaikannya untuk kita semua. Namun perlu jadi catatan, kondisi yang saya sampaikan hanya sebatas waktu dan kesempatan serta daya tangkap pribadi saya, tidak menggambarkan keseluruhan pendidikan di Amerika. Kisah ini juga tidak untuk memperbandingkan antar negara, hanya sekedar untuk mengambil yang baik dan cocok. 

Fokus Pendidikan

Dalam diskusi saya ditanyakan oleh salah satu senator tentang standar nasional pendidikan di Indonesia. Saya menyampaikan setahu saya ada beberapa mata pelajaran yang nilainya menjadi acuan Ujian Nasional (UN). Namun ketika diskusi berlanjut, apakah sekolahnya sudah standar, apakah akses siswa sudah standar, apakah gedung sekolah sudah standar, apakah cara mengajar dan pendidikan gurunya sudah standar? Saya rasa belum waktu itu. Namun nilai yang dipakai sudah standar

Dari diskusi itu dan informasi dari berbagai artikel, Amerika menerapkan fokus – fokus pada setiap daerah. Misal jika seorang siswa ingin menempuh karir dalam bidags birokrasi dan politik, tempatnya di Washington. Sedangkan akses untuk perekonomian lokasinya di New York. Jadi karateristik dan kapasitans daerah bisa memenuhinya 

Hal yang sama juga saya tangkap dari diskusi beberapa sensei (guru/ profesor) dari Jepang yang pernah bertemu. Salah satunya serang profesor yang fokus binatang semut. Dari awal pendidikan sehingga pendidikan terakhirnya pun terkait dengan semut. Linear dan jelas masa depannya di mana

Tidak Berseragam

Dalam beberapa sekolah saya tidak menemukan siswa menggunakan seragam sekolah. Mereka menggunakan pakaian sendiri – sendiri. Aturan seragam nampaknya tidak diterapkan secara ketat. Mungkin karena Amerika terdiri dari berbagai etnis, suku bangsa, agama dan warna kulit. Seragam hanya ada pada kelompok tertentu misal, siswa marching band, kelompok kegiatan dan klub – klub sesuai hobi siswa seperti olahraga basket. 

Sedangkan di Indonesia, seragam ini terus jadi masalah. Semuanya harus sewarna, beli di sekolah dan kewajiban seragam tambahan seperti pakaian olahraga, pakaian daerah, pakaian kegiatan pramuka dan lain – lain .

Biaya Efektif

Ini agak unik. Waktu sebelum berangkat saya mengenal komputer hanya yang menggunakan CPU. Ketika di salah satu sekolah, saya diperlihatkan ruang komputer yang cukup banyak. komputer- komputer itu digunakan untuk ujian bagi siswa dan mengerjakan tugas. Saya agak panik mencari port usb untuk colok flashdisk, karena tidak menemukan kotak CPU. Akhirnya saya diberi tahu, bahwa itu komputer all in one (AIO) yang monitornya sudah bergabung dengan CPU dalam satu tempat. Oalah

Jadi tidak dibutuhkan lagi banyak kertas, Lembar Kerja siswa dan kewajiban lain yang akhirnya akan jadi tumpukan kertas bekas. Untuk buku sekolah, diadakan oleh LSM (Non Government Organization/NGO). Jadi tidak ada lagi biaya – biaya lain, termasuk uang komite dan uang-uang lainnya yang membebani pendidikan

Semoga tulisan ini dibaca oleh Menteri Nadiem yang luluşan Amerika itu. Semoga ada solusi agar anak bangsa lebih cerdas. Saya rasa pastillah kita semua mau, Walau tidak mudah cobalah terus. 

Note : Jika ingin mendapatkan informasi lengkap tentang pendidikan Amerika silakan cari sumber resmi dan terupdate. (*)

February 16, 2021