Pulang Kampung Jika Mufakat

Beberapa tahun lalu, saya wawancara seorang tokoh nasional asal Sumbar
Beliau dikabarkan akan pulang kampung untuk menjadi kepala daerah. Citra baik tokoh itu dan kabar keinginannya balik kampung membuat saya tertarik. Ini berita menarik

Saya memperkenalkan diri lewat pesan singkat. Setelah beberapa menit tidak dibalas. Akhirnya saya coba menelfon
Telp pertama tidak diangkat

Namun hanya beberapa detik, setelah itu beliau menelfon

Ia menyampaikan informasi itu tidak benar. Memang ada yang mengajaknya pulang kampung dan mencalonkan diri, tapi dirinya belum memutuskan.  Banyak gambar dan informasi di dunia maya, itu hanya bikinan orang lain. “Kata kawan itu testing,” sebutnya. Ia tidak menyuruh dan tidak melarang, karena menjaga perasaan kawan2

Baginya membangun kampung tidak harus di kampung dan tidak harus menjadi kepala daerah. Ia mencontohkan apa yang telah dilakukannya. Apa yang  akan dilakukannya untuk kampung ke depan

Setelah itu akhirnya ia menerangkan ada beban pribadi, jika berkompetisi dengan kawan sekampung untuk jadi kepala daerah. Itu akan merusak silahturahmi. Saya paham itu hal yang prinsip bagi seseorang. Ia berharap nantinya ada musyawarah dan mufakat memilih kepala daerah dan menyesuaikan dengan sistem demokrasi. Demokrasi katanya, bisa saja meninggalkan residu persaingan hingga bertahun – tahun. 

Gimana caranya Pilkada pakai Musyawarah mufakat? Diterangkannyalah berbagai teori. Salah satunya daerah di kampungnya yang kecil, hanya memiliki beberapa tokoh. Mereka bertemu. Lalu mengusung pasangan calon. Paslon itu melawan kotak kosong. Ide baru, saya belum pernah menemukan ini dalam sebuah Pilkada. Saya catat sebagai bahan berita. Saya ditelfon cukup lama.

Waktu itu. Saya juga memiliki asumsi dan belum saatnya mengkonfirmasi. Beliau tidak ingin berdemokrasi karena memiliki pemahaman berbeda tentang sistem sosial di masyarakat. Asumsi ini saya simpan untuk bahan berita nanti dengan sudut pandang berbeda. Nanti saya akan telfon lagi. 
Namun asumsi itu salah. Beberapa waktu kemudian, saya mendapatkan informasi beliau mencalonkan di daerah lain sebagai calon legislatif. Ini demokrasi juga.

****************

Kejadian itu mengajari saya, bagaimana melalukan konfirmasi dan cek serta ricek sebuah informasi. Karena  informasi yang beredar  berdasarkan asumsi belumlah terverifikasi. Info salah itu juga bisa salah sebagian, atau salah dari sisi memahami. 

Pelajaran 2Jika seseorang tidak mengangkat telfon, bukan berarti ia tidak respon. Bisa saja untuk membantu agar penelfon tidak dibebani tagihan pulsa telfon

Pelajaran 3Musyawarah mufakat bisa lebih baik. Di sebuah kelompok, ini akan menghadirkan keputusan yang memuat seluruh kepentingan kelompok. Jadi tidak semuanya itu langsung voting

#demokrasi #vote #voting #musyawarah #mufakat

May 31, 2021

Tags: , , ,