Taram Potensi Terpendam (Kondisi Wisata Taram 20-10-2006)

Pagi itu matahari baru menampakan sinarnya. Langit sangat cerah dengan cahaya disela-sela dedaunan batang kayu. Semilir angin mengimbangi sumber cahaya bumi tersebut. Di kolam yang terbentuk tidak sengaja pada bekas galian C di Taram Kecamatan Harau tampak melukiskan warna langit.

Eka Putra—-Taram

Bagaikan khayangan dalam cerita dongeng, memasuki areal yang direncanakan untuk pengembangan wisata Taram. Jalannya belumlah rapi, setelah melewati jalan aspal kita harus menempuh jalan tanah yang telah keras sekitar 100 meter.

Beberapa sepeda motor dan mobil truk berulang kali melewati daerah tersebut. Mobil truk tersebut jika memasuki daerah ini dalam keadaan kosong. Jika berlawanan arah, tampak galian C tertumpuk dalam bak belakangnya.

Pemandangan menarik mobil colt Diesel itu melewati genangan air. Tidak kalah dengan pertunjukan off road sopir truk sangat tangkas melewati rintangan tersebut. Sopir-sopir truk itu berkumpul di sebuah kedai tidak jauh dari tempat tersebut. Disanalah mereka bercanda mengisi waktu dan beristirahat sambil menghirup segelas kopi manis disela-sela semilir angin.

Sedangkan diluar ada beberapa mobil yang dibongkar, perlu beberapa perbaikan agar tetap tangguh menjalani tugasnya. Di tepi genangan air beberapa rakit dari bambu telah disiapkan bagi orang yang ingin menjelajahi keindahan kolam di Taram.

Dibawah bayang-bayang tingginya bukit Taram, kita bisa melihat burung-burung beterbangan dan sesekali menukik ke dalam kolam. “Inilah keindahan yang tiada taranya,”ucap Empu, seorang wartawan TV nasional ketika singgah disana.

Empu agaknya sependapat dengan semua orang yang pernah melihat tempat tersebut. Daerah yang luas dan kaya potensi, perlu pengembangan yang lebih matang. Untuk itu diperlukan dana yang tidak sedikit. “Kita harus mencari investor untuk pengembangan daerah ini,”jelas anggota DPRD Limapuluh Kota disana.

Duduk sebentar dipondok bertingkat tepi kolam, sangatlah menyenangkan. Melepas lelah, seakan terbuai dengan buaian angin seakan ingin tinggal lebih lama. Perjalanan harus dilanjutkan mengelilingi daerah ini menghabiskan waktu beberapa jam.

Melihat areal kemping. Lapangan seluas 25 Ha itu sangatlah layak untuk agenda menginap di alam bebas. Cadangan air mengalir tidak pernah kering, menghidupi masyarakat yang ingin hidup bersama tantangan alam.

Tidak perlu cemas, jauh dari peradaban. Di pinggir areal kemping tersebut telah ada beberapa warung sederhana milik masyarakat. “Singgah dulu,”ucap salah seorang penduduk menawarkan keramahannya ketika kita lewat.

Roda kendaraan terus berputar, menuju kedaerah perbukitan. Areal itu tidak datar. Masih banyak tumbuhan liar dan alami disana. “Daerah itu cocok ditanami beberapa komiditi,” tunjuk Da De ke perbukitan itu.

Puas berputar-putar di areal Taram kami harus kembali untuk beristirahat di rumah masing-masing. Dari jauh bukik Bulek yang tinggi tegak terus membayangi. Seakan berkata, kami akan tetap menunggu disini.

Tujuh Zona “Emas” Disiapkan

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Limapuluh Kota bersama Yayasan Pemberdayaan dan Motivasi Ekonomi Masyarakat (Pedati Emas) merencanakan pengelolaan objek wisata Taram Kabupaten Limapuluh Kota.

Pada lahan seluas enam hektar itu salah satunya akan dibangun kawasan wisata perikanan dan wisata alam Bukit Batu Bulek. Untuk wisata perikanan di lokasi tersebut, mampu memuat 100 unit jala apung.
Menurut penanggung jawab uji coba perikanan didaerah itu, Sepdi Pandaveri daerah itu mampu memuat 100 unit jala apung dan memproduksi 1,2 ton ikan perharinya.

Ketua Yayasan Pedati Emas, Ferizal Ridwan, mengatakan hal yang sama telah dilakukan di beberapa daerah di . Seperti di di Lubuk Basung dan Tanah Datar. Sedangkan di Limapuluh Kota dilaksanakan di Halaban Pangkalan dan Taram.

“Ini merupakan unit usaha untuk masyarakat muda di Limapuluh Kota. Agar konsentrasi dalam dan mendapatkan hasil dari usaha ini. Objek wisata dan perikanan ini akan bekerjasama dengan perusahaan Minat warisan di Malaysia. Dengan dibukanya hal ini, masyarakat sangat mendukung. Hal ini terlihat dengan diserahkannya tanah seluas 25 Ha berbatasan langsung dengan lokasi kawasan wisata Taram,” jelas lelaki yang juga anggota DPRD Limapuluh Kota tersebut.

Sementara dt Mangkuto, Koordinator Bagian Teknis Yayasan Pedati Emas, menyebutkan tambak ikan tersebut berada dalam lokasi galian C yang terlantar lebih dari 15 tahun. Sangat disayangkan potensi itu tidak dimanfaatkan, seperti Bukik Bulek dan Batang Mungo yang tidak pernah kering. Pemandangan daeah itu katanya sangat indah. Bahkan di daerah itu juga masih terdapat burung belibis saat pagi dan sore, sementara di daerah lain telah sangat langka.

Tentang rencana pembagian pembangunan kawasan menurutnya dibagi pada tujuh zone. Zone A di kawasan Taram sebagai kawasan wisata perairan Bukik Bulek Taram Limapuluh Kota. Zone B, sepanjang jalan melingkar sampai Batang Mungo. Zone C, worksop pertanian, perikanan dan peternakan. Zone D cottage, kolam renang, restoran dan areal parkir. Zone E, sarana olahraga dan rekreasi. Zone F, tempat pemancingan dan kolam pembibitan ikan dan zone G, camping ground.

“Perlu peranan swasta dan pemerintah, kalau hanya Pedati Emas dirasakan belum mampu untuk itu. Hal ini merupakan pemberdayaan masyarakat yang kita inginkan menjadi terwujud. Pedati Emas hanya merencanakan dan merintis hal tersebut,” tutur Dt Mangkuto.

Budiman Mustafa, Ketua Kelompok Jala Apung, mengharapkan pemerintah Kabupaten Limapuluh Kota agar segera merealisasikannya. Menurut Budiman animo dari masyarakat sangat tinggi terhadap perikanan jala apung.

Bupati Limapuluh Kota, Amri Darwis menanggapi keinginan masyarakat tersebut, mengharapkan dukungan dari semua pihak. “Kita yakin adanya multiflier effect dan berguna bagi masyarakat. Kami mengharapkan semua mendukung seperti ini. Termasuk anggota DPR dan wartawan agar mempublikasikan secara positif secara objektif. Limapuluh Kota memang punya potensi yang besar,” tutur bupati. (abk)

( ini pernah di muat di Harian Pagi pada 21-10-2006)

No tags for this post.

Related posts

October 21, 2006