Mendorong di Kegelapan Banjir

Satu malam, satu ban mobil, terperosok lobang di pinggir jalan, daerah Andalas, kota . Itu lobang proyek drainase yang masih dalam pengerjaan, tujuannya agar air jalan mengalir ke selokan. Saat itu hujan dan angin kencang. Malam telah larut.

Saya kebetulan lewat, melaju pelan. Sambil sesekali membetulkan mantel yang terus saja diterbangkan angin. Terlihat seorang anak kecil memakai payung, berusaha mendorong mobil besar mewah itu. Sedangkan sopirnya berusaha memainkan gas mesin. Asap dari ban dan knalpotnya terlihat di sela hujan.

Tentulah dengan cara ini akan kecil kemungkinan bisa keluar dari lubang tersebut. Bannya terjepit

Saya berhenti beberapa meter depan mobil. Tetap menggunakan mantel saya minta izin untuk ikut bantu mendorong. “Paralu bantu ditundo pak (Perlu bantuan untuk didorong pak)”. Pengemudi langsung marah “Waang yang buek lubang di tapi jalan ko (Kamu yang buat jalan di pinggir jalan)”. Jawab saya “Ndak pak, saya kebetulan lewat. Mau bantu dorong,”. “Tundolah,” katanya mengizinkan.

Setelah beberapa lama mobil itu berhasil terbebaskan. Sambil menunggu anaknya naik ke atas mobil, si sopir berteriak. “Kok rusak mangganti waang,”. Pangkal lengan bapak itu besar, dilihatkannya ke saya. Di dashboard mobil, di balik stir sekilas saya lihat topi seperti milik aparat.

Saya satukan telapak tangan di dada. ” Hati – hati di jalan ya pak,” kata saya tersenyum. Ia melengah, menutup kaca dan mainkan gas lagi.

Mobilnya melaju. Masuk gang dekat Andalas. Saya lanjutkan perjalanan. Hujan masih deras.

Ini bukan yang pertama bagi saya. Saya pernah bantu seberangkan seorang nenek di dekat pasar. Turunlah saya dari mobil, saya seberangkan. Pedagang gerobak, di pinggir jalan bertanya. “Kau mau ambil emas nenek tu?,”. Tidak jawab saya, periksa dan tanya nenek itu, jawab saya. Setelah ia agak santai saya baru pergi.

Pernah juga di dekat jalan Dobi. Sepasang remaja, sibuk mengecek sepeda motornya. “Bapak saya tentara,” katanya ketika saya menawarkan bantuan. “Tidak apa- apa, baguslah,” saya jawab “saya coba bantu”. Ia pergi setengah , ketika sepeda motornya bisa dipacu lagi. Hanya busi yang goyang.

Tapi itu lebih sedikit dibandingkan yang bersyukur dan mengucapkan terimakasih. Tidak apa – apa saya juga mungkin begitu. https://tandriekaputra.com/jalan-gelap-di-hutan-malampah/ (*)

No tags for this post.

Related posts

July 25, 2023